Sabtu, 21 Maret 2015

Sekelumit Manusia dan Cinta Didalamnya


Nita, adalah salah satu mahasiswi cantik yang berasal dari kota Bandar Lampung. Dia sengaja pergi ke Jakarta untuk melanjutkan kuliahnya disalah satu Universitas yang ada di kota Jakarta.  Dengan membawa bekal 3 stel baju, peralatan tulis dan selembar ijazah SMA yang dia bawa dari kampung halamannya, dia memberanikan diri pergi ke kota Jakarta seorang diri.

Sampai di Jakarta, Nita tinggal bersama teman Ayahnya yang bernama Rahman Sujaja, yang biasa dikenal dengan sebutan Om Maman. Kebetulan, Om Maman ini memiliki seorang putra yang bernama Arif Sujaja. Usia Arif tidak jauh berbeda dengan usia Nita, karena Arif memiliki usian 1 tahun lebih unggul dari Nita. Walupun begitu, Arif tetap sekelas dengan Nita. Hal ini dikarenakan Arif, lelaki tampan kesayangan Om Maman ini pernah tidak naik kelas pada waktu SMP. 

Arif memang masuk kedalam golongan orang-orang tidak pintar, walau begitu Arif tetap menjadi pangerannya para wanita sebayanya. Bukan hanya tampan, tetapi Arif memiliki harta, karena dia memang berasal dari keluarga yang cukup berkelas. Hal ini yang mengakibatkan banyak sekali wanita-wanit yang menyukainya.

Tampan dan kaya raya telah membuat Arif lupa akan hak dan kewajibannya menjadi seorang anak. Arif seperti ini semenjak Ibunya meninggal dunia pada saat Arif kelas 2 SMA. Om Mama seorang pengusaha sukses tidak bisa dan tidak mampu untuk mengurus Arif seorang diri. Mengingat pekerjaan kantornya yang banyak dan tugas seorang Ayah serta ditambah menjadi seorang  Ibu  untuk anaknya ini.

Bukan hanya itu, mengingat usianya yang sudah renta, terlalu sulit untuk menjalankan 3 kewajiban sekaligus didunia ini jika seorang diri. Semenjak Nita tinggal disana, Om Maman merasakan keringanan, karena Nita sering membantu pekejaan rumahnya.
***

Setiap hari Nita pergi kuliah bersama Arif menunggangi sepeda motor miliknya. Arif merasa malu karena setiap hari selalu memboncengi wanita kampung ini. Nita selalu sabar jika Arif sering membentak-bentaknya didepan orang-orang banyak.

Putri, sahabat baik Nita sering sekali memberi nasihat kepada Nita, jika perlakuan Arif kepadanya sudah melampaui batas wajar. Karena Nita sering diperlakukan seperti hewan didepan teman-temannya. Walau begitu, Nita tidak pernah melawannya. Bukan karena takut, melainkan Nita sudah menganggap Arif dan Om Maman ini seperti keluarga keduanya. Begitu juga pesan kedua orangtuanya yang berada di kampung.

Tian, lelaki cupu yang selalu ada disamping Nitapun memberikan nasihat yang sama kepada Nita. Nita hanya tersenyum melihat  kedua sahabatnya ini sangat memperdulikannya. Walau begitu, Nita tetap saja tidak mau melawan apa lagi sampai melukai Arif ataupun Om Maman. Karena dia tahu akan balas budi kepada keluarga Om Maman.
***

Seiring waktu berjalan, Arif yang memiliki kepribadian seperti lelaki pecundang ini tiba-tiba memperlakukan Nita seperti ratunya. Entah setan apa yang telah merasuki akal dan pikirannya, sampai-sampai dia sendiri rela berkorban untuk Nita. Dulu, Nita seperti budaknya, namun sekarang Nita seperti ratunya. Iya ratu, seorang ratu untuk Arif.

Melihat kedekatan Nita dengan Tian, Arif cemburu. Tian, lelaki cupu ini sengaja memperlihatkan rasa peduli dan perhatiannya untuk Nita didepan Arif. Dengan gagahnya, Arif menarik tangan gadis kampung ini serta membawanya pergi dari Tian.

“aw...aw...aw”, suara kesakitan dari bibir Nita. Arif tidak memperdulikan suara itu. Arif tetap saja melangkah sambil menggandeng tangan gadis kampung ini menuju taman kampus. Kebetulan disana terdapat Putri yang sedang duduk sendiri sambil menikmati manisnya permen karet. Dengan rasa herannya Putri bertanya “ada apa ini, Nita.. kamu kenapa?”. Nita tidak sempat menjawab pertanyaan Putri tadi, karena Arif masih menarik tangannya dengan kencang. Dengan rasa khawatir akan sahabat baiknya ini, Putri diam-diam mengikuti langkah kaki Arif.

“duduklah”,  (dengan rasa kesal, Arif mempersilahkan Nita duduk).

“i..i...iya!”, (Nita menjawabnya masih dengan nada terbata-bata).

“sudah berkali-kali kukatakan, jauhkan lelaki cupu itu”, (Arif sedikit membentak Nita).

“lelaki cupu? Maksudmu Tian?”, (dengan rasa bingungnya Nita masih menanyakan maksud dari pertanyaan Arif).

“iya Tian. Jika kamu tidak menjauhinya, aku sendiri yang akan memberikan perhitungan kepadanya”, (sedikit ancaman kepada Nita).

ba...ba..baiklah, aku akan menjauhinya”, (dengan wajah polos, Nita meng’iyahkan apa yang 
diucapkan Arif tersebut).

Dengan cepatnya Arif meninggalkan Nita sendiri di taman. Tidak lama kemudian Putri menghampiri Nita dengan membawa banyak pertanyaan untuknya. Belum sempat melontarkan pertanyaan, Nita sudah berkata “sudah jangan bertanya, aku tidak mau diganggu. Cepat tinggalkan aku sendiri”. Dengan herannya Putri Mendengar ucapan itu dari mulut Nita. “lhoo.. ada apa ini? Apa yang sebenarnya terjadi dengannya?”, dengan rasa yang mengganjal dihati, Putri bergegas meninggalkan Nita sendiri di taman.

Dengan rasa paniknya, Tian berlarian mencari-cari Nita. Disetiap tempat yang sering Nita kunjungi di kampus itu, Tian tidak menemukannya. “apa yang sedang terjadi antara Arif dan Nita”, pikir Tian dengan kepo sambil mencari-carinya.

Bbbrrruukkk...

Tian dan Putri saling bertabrakan. Mata Putri berbinar melihat kedua mata Tian yang dilindungi kaca mata itu. sambil melamun, Putri memperhatikan Tian dari ujung kaki sampai kepala.

Hey, syuuutttt....

Tian berusaha membangunkan Putri dari lamunannya. Dengan rasa malu putri menundukkan kepalanya dan berkata “maaf aku tidak sengaja”. Belum sempat menjawab pertanyaannya, Nita datang sambil menangis menghampiri Tian.

Tian, lelaki cupu ini memberikan rasa pedulinya kepada Nita. Tian memang sangat peduli kepada Nita. Sudah cukup lama Tian menyukai Nita. Namun, Nita sendiri tidak mengetahuinya. Dia malah menganggap Tian ini seperti kakaknya.

Melihat itu semua Putri dengan cepatnya meninggalkan mereka berdua. Putri cemburu, dia memang cemburu. Diam-diam Putri mengagumi sosok Tian yang baik hati ini. Namun apa daya Tian menyukai Nita, sahabatnya. Dengan rasa kesal dan gelisah menahan amarah serta rasa sakit hati yang dia derita, Putri mulai menjauhi sahabatnya itu. Nita mulai merasakan keanehan pada sosok Putri yang mulai berubah.
***

Tepat pada malam minggu, Arif mengajak Nita makan malam diluar. Dengan menggunakan baju sederhananya, Nita tampil begitu cantik. Arif baru menyadarinya, jika selama ini Nita memang gadis kampung yang cantik. Dia juga berfikir tentang perasaannya itu, jika dia memang benar-benar menyayangi Nita lebih dari seorang teman maupun kakak adik dalam sebuah keluarga. Dengan membawa sebuah cincin yang dia beli di toko bersama Ayahnya itu, Arif memberanikan diri untuk menyatakan cintanya kepada Nita, serta mengajak Nita untuk bertunangan.

Nita tiba-tiba syok melihat apa yang sedang terjadi pada malam itu. Dia bingung apa yang harus dia lakukan pada saat itu. Harus senangkah atau harus menangiskah yang harus dia lakukan. Nita diam-diam juga menyimpan rasa kepada Arif, namun dia takut jika Arif hanya bermain-main dengan ucapannya itu.

Kini malam mulai larut, Nita mengakhiri keheningan malam itu dengan cara mengajak Arif untuk pulang kerumah. Dengan rasa sedikit kecewa, karena Nita tidak menjawab pertanyaannya itu, Arif meng’gass mobilnya hingga melaju sangat kencang. “Hal bodoh apa yang sudah aku lakukan? Dia pasti membenciku sekarang!!”. Disepanjang jalan Arif masih memikirkan hal itu.

Sesampainya di rumah, Nita sedikit memberikan senyuman untuk Arif ketika ingin masuk kedalam kamarnya. Arif membalasnya dengan senyuman ragu. Senyumnya, wajahnya, cara bicaranya, serta lantunan nada leluconnya telah membuat Arif tidak nyenyak tidur pada malam itu.
***

Pagi ini Tian juga menyatakan cintanya kepada Nita. Namun Nita dengan lantang nya berkata Maaf aku menyukain laki-laki lain.

“Laki-laki lain?. Maksudmu Arif, Laki-laki yang selama ini melukaimu?”. (Tian tercengang dengan jawaban Nita).

“Iya Arif. Semalam dia memberikanku sebuah cincin dan dia mengajakku untuk bertunangan. Namun aku belum menerimanya, aku masih bingung”. (Nita menjelaskan semuanya).

“Bingung? Kenapa harus bingung, bukankah kamu mencintainya juga?. Jika memang benar, terimalah dia Nit”. (Tian berusaha bersikap gentel layaknya seorang laki-laki yang rela luka hatinya untuk wanit yang dia sukai).

Tian baru menyadarinya, jika cintanya kepada Nita memanglah salah. Seharusnya dia tidak menyatakan itu semua, karena hal ini hanya menambahkan beban pikiran Nita saja. Dengan rasa kecewa, Tian meninggalkan Nita sendirian ditaman.

Dihari yang sama dan diwaktu yang berbeda, Putri juga memulai menyatakan cintanya kepada Tian. Sebenarnya apa yang dilakukan Putri memanglah bodoh, menyatakan cinta kepada seorang laki-laki. Hal ini sangatlah jarang dilakukan oleh seorang wanita.

Tian tidak menyangka jika selama ini Putri menyukainya. Serta tatapan matanya yang waktu itu menunjukkan segala perasaannya. “huh......dunia ini memang sempit”, pikir Tian dalam hati.
***

Seiring waktu bejalan, mereka semua menjalani kehidupan seperti biasanya. Nita dan Arif telah melakukan sebuah pesta tunangan, Tian dan Putri telah melakukan pendekatan satu sama lain.

Kisah ini memanglah rumit jika kita sendiri yang terlibat didalamnya. Kita pasti bingung harus memilih siapa dan apa alasannya kita telah memilihnya. Namun, jika semua itu kita hadapi dengan sikap positif, sabar dan dewasa dalam berfikir maupun melakukan sebuah tindakan, pasti permasalahan ini akan mudah terselesaikan tanpa ada satupun luka yang berbekas dihati, karena hidup adalah sebuah pilihan. Harus ada yang dipilih dan harus ada yang dikorbankan karena tidak terpilih.

Kamis, 19 Maret 2015

Selembar Surat Kenangan


Malam ini hujan turun lagi. Tak lupa kututup jendela kamar dan ruang tamu yang ada dirumahku.Tak lupa juga pintu rumah yang selalu  terkarut dengan rapatnya.
Diluar sana, angin bertiup dengan kencangnya, seakan menggoyangkan pepohonan yang ada. Kini, waktu sudah larut malam, dimana saatnya untuk meletakkan badan diatas kasur untuk beristirahat.

Tok..tok..tok...

Terdengar seperti ada orang yang mengetuk-ngetuk pintu depan. Kuingat kedua orang tuaku sedang pergi kerumah nenek, Kini hanya aku saja yang ada dirumah ini. Lantas? siapa yang mengetuk-ngetuk pintu? Apakah tamu? Tetapi, malam-malam gini mana ada orang yang bertamu? (terlintas rasa mustahil dipikiranku).
Ketika kubuka pintu depan, ternyata tidak ada orang diluar sana. “ohh mungkin hanya orang iseng, ataupun tiupan angin yang kencang” pikirku dengan cepat dan bergegas ke kamar untuk tidur.

Bbrruuukk..

Kututup pintu kamar dengan kerasnya. Tiba-tiba, kotak kecil dari atas pintu jatuh kelantai. Akupun bingung akan kotak ini, siapa yang telah meletakkan kotak berwarna merah dengan tali pita diatas pintu kamarku? Apa mungkin ini punya Ibu?. Akan kutanyakan pada Ibu besok, jika Ibu sudah pulang dari rumah nenek.

Malam ini aku tidak bisa tidur. Tak lupa kotak merah tadi, kuletakkan diatas meja belajarku. Kutunggu-tunggu kedatangan Ibu dan Ayah pada malam ini. Namun, mereka belum juga sampai..
Rumah kini terasa hening ketika semua penghuninya sedang pergi. Rasa takut muncul ketika malam mulai larut. Kutelepon Ibu, namun Ibu hanya mengatakan “sebentar lagi Ibu sampai dirumah”. sudah 1 jam aku menunggu Ibu dirumah, namun tak sampai-sampai juga mereka dirumah.

Sekitar jam 12 malam, Ibu sampai dirumah bersama Ayah. Setelah mencium tangan mereka, aku segera berlari ke kamar untuk mengambil kotak berwarna merah dengan tali pita itu, lalu menanyakannya kepada Ibu.

Ketika kutanyakan kepada Ibu, Ibu malah menjawabnya “tidak tahu, Ibu hanya menemukan kotak itu 2 minggu yang lalu di teras rumah. Ibu pikir ini milikmu San? Makanya Ibu taruh kotak ini di kamarmu”.

Lantas ini punya siapa? Dan untuk siapa? Aku benar-benar tidak mengetahuinya. Karena di kotak ini tidak ada nama pengirim dan orang yang ditujunya. Aku segera masuk ke kamar. Dengan rasa penasaran, kuletakkan kotak itu diatas kasur.Kulihat lagi kotak itu dengan perlahan-lahan. Bola mataku tak kuasa melihat kotak itu. rasanya ingin aku buka.  

“Akan aku buka kotak ini” pikirku. Disetiap jari-jari tangan ini membuka bungkusnya, tak lupa selalu aku ucapkan “bissmillah hirrahman nirrahim” agar aku selamat, jika isi kotak ini berbahaya.

Ketika kubuka, ternyata kotak ini berisikan sekuntum mawar merah, tak lupa foto-foto dan sebuah surat yang  sangat rapih dengan menggunakan tinta berwarna hitam.
Kuambil mawar itu, namun mawar ini telah layu. "Mungkin sudah terlalu lama, kurang lebihnya hampir 2 minggu berada didalam kotak ini", Pikirku.

 Tak lupa kulihat foto-foto yang ada didalam kotak ini. Ternyata, ini adalah foto-fotoku sewaktu SMK. “siapa yang telah mengirim kotak ini? Apa mungkin temanku sewaktu SMK” segala pertanyaan muncul di dalam hati ini, seakan-akan menutup kesunyian dimalam itu.

Akibat kebanyakan memikirkan “siapa pengirim kotak ini” aku hampir saja melupakan sebuat surat yang ada di dalamnya.
Kuambil selembar kertas itu dan kubawa kedepan jendela kamar untuk kubaca.

Hay San, apa kabar? Sudah lama kita tidak pernah bertemu. Kira-kira sudah  2 tahun lamanya, semenjak acara kelulusan pada malam itu. Kulihat waktu itu, kau mengenakan gaun berwarna merah. Rambutmu selalu diurai dengan menggunakan pita kecil diatasnya (agar sedikit menghiasi rambutmu). Hal itu selalu kuingat, karena itu merupakan ciri khasmu sewaktu kamu masih sekolah.

Dari kejauhan, selalu kuamati dirimu. Nampaknya, dirimu telah membawa diriku ini untuk mengenal jauh tentangmu. Namun, mulut ini tak berdaya. Ketika aku tidak sengaja menabrakmu di dekat meja makan. Aku ingin sekali mengungkapkan rasa cinta ini. Namun, lagi-lagi mulut ini tak berdaya, ketika aku melihat kedua matamu yang indah itu.

Kini aku melanjutkan kuliah di Australia. Aku sengaja mengirimkan surat ini kerumahmu, ketika aku berkunjung ke Indonesia menemui nenek yang sedang sakit.

Bagaimana kabarmu sekarang? Aku akan menemuimu ketika aku sudah lulus kuliah. Aku akan datang bersama kedua orangtuaku ke rumahmu, untuk melamarmu .

Simpan baik-baik surat ini ya, selalu menjaganya dan merawatnya agar tidak lesu dan tidak hilang.
 Selamat tinggal dan sampai jumpa..."

                                                                                                                                         Roy Lesmana

Ketika kubaca surat itu, ternyata surat itu untukku dari Roy, teman waktu SMK. Aku memang jelas masih teringat kejadian malam itu, ketika acara perpisahan disekolah. Roy tidak sengaja menabrakku dan dia juga menolongku, serta mengantarku sampai rumah.

Kuingat-ingat...  dulu aku pernah menyukai Roy. Iya aku menyukainya, sangat-sangat menyukainya. Namun, aku tidak berani menyatakannya, karena aku perempuan. Aku ingin dia yang memulainya, memulai menyatakan cintanya kepadaku. Namun telah lama kutunggu, dia tidak menyatakan itu semua.

Bertahun-tahun lamanya aku memendam rasa cinta ini, sampai-sampai aku sendiri  lupa akan cinta itu dan kenangan itu seiring jalannya waktu. Kini, dia datang lagi dengan membawa kehidupannya dimasa yang akan datang.

Segala pemberian Roy, telah mengingatkanku diwaktu SMK dan Semua kenangannya, dimana aku dan Roy selalu mencuri-curi perhatian satu sama lain. Sampai sekarang aku telah menantinya, tidak lupa kotak dan semua isinya akan kusimpan selalu di kamarku hingga saatnya nanti aku dan Roy dipertemukan.

Selasa, 17 Februari 2015

Penyesalan Diujung Sebuah Kehidupan (PDSK)

Dari kecil, Nadia sudah ditinggal sendirian dirumah bersama pembantunya. Kedua orangtuanya selalu sibuk dengan pekejaannya, sampai-sampai mereka lupa dengan hangatnya berkumpul bersama dengan keluarga.

Nadia merupakan anak satu-satunya dari sepasang suami istri yang tinggal di Jl. Raya Teluk Gong Rt 07 Rw. 09. Nadia memang cantik, kaya raya, sopan santun, ramah, mengerti agama dan pintar. Tetapi itu hanyalah dulu, sewaktu Nadia masih duduk dibangku SMP. Sekarang, semenjak kedua orangtua Nadia sibuk dengan urusan kantornya, Nadia menjadi terlantar dan tidak keurus. Maksudnya terlantar bukan karena Nadia tinggal di jalanan, namun Nadia kurang perhatian dan kasih sayang dari seorang Ayah dan Ibu.

Sewaktu Nadia duduk dibangku SMK,dia selalu iri dengan temen-temannya. Teman-teman Nadia selalu diantar jemput dan selalu dibawakan bekal nasi oleh Ibu mereka, namun semenjak kedua orangtua Nadia sibuk dengan pekerjaannya, yang selalu mengantarkan Nadia ke sekolah adalah Pak Tejo, supir keluarga Nadia. Dan orang yang selalu membawakan bekal nasi hanyalah Mbok Minah, Seorang pembantu yang telah mengurus Nadia dari kecil. Hanya Pak Tejo dan Mbok Minah lah yang selalu ada dimanapun Nadia berada.

Ketika Nadia duduk dibangku SMK, hampir tiap malam Nadia menangis di dalam kamar. Nadia selalu memanggil-manggil nama Ayah dan Ibunya, namun yang selalu datang hanyalah Pak Tejo dan Mbok Minah. Ketika Nadia menangis, mbok Minah dan Pak Tejo  tidak tega melihatnya. Mereka berdua sudah menganggap Nadia seperti anaknya sendiri. Karena sepasang suami istri ini sudah lama menikah, namun tidak mempunyai keturunan.

Di umur Nadia yang genap 17 tahun ini, Nadia merencanakan sedikit pesta dirumahnya. Sekitar jm 9 malam, kedua orangtua Nadia belum pulang kerja. Nadia telah menunggu kedatangan Ayah dan Ibunya itu sampai dirumah. Namun, sampai jm 12:00 malam, kedua orangtuanya belum juga sampai dirumah. Nadia tetap menunggu kedatangan mereka di ruang tamu dengan menggunakan baju tidur dan membawa segelas air putih dari dapur.

Hari ini hari minggu, ketika Nadia membuka kedua matanya, ternyata Nadia sudah berada di kamar. Terbesit pikiran “akankah Ayah dan Ibu sudah pulang?”. Bergegas cepat-cepat Nadia menuju kamar kedua orangtuanya itu. Namun, yang dilihatnya adalah sebuah ruangan rapih, bersih dan wangi yang sudah lama tidak ada yang menempati. “apa ayah dan ibu semalam tidak pulang lagi ke rumah?” dengan muka bete Nadia menghampiri mbok Minah didapur.

“mbok, apa ibu dan ayah semalam tidak pulang lagi?” tanya Nadia dengan wajah kesal.

“semalam ibu telepon, katanya Ibu dan Tuan ada pekerjaan diuar kota untuk beberapa minggu ini, memang nya kenapa ndok?” mbok minah menjawab pertanyaan Nadia sambil membuatkan sarapan pagi untuk Nadia.

“enggak papa mbok, aku Cuma kangen dengan ayah dan ibu. Sudah lama aku tidak melihat wajah mereka dan sudah lama juga aku tidak merasakan belaian tangan mereka yang penuh dengan kasih sayang” Nadia menjawab pertanyaan mbok Minah dengan meneteska air mata.

“sudah ndok, kan ada mbok dan Pak Tejo yang selalu ngejagain kamu. Kami berdua sudah menganggap kamu seperti anak sendiri” Mbok Minah segera memeluk Nadia, karena Nadia sangat kesepian ditinggal kerja oleh kedua orang tuanya.

Rencana kecil Nadia itu seakan-akan hilang diterpa angin, ketika mendengar bahwa kedua orang tuanya pergi ke luar kota. Nadia hanya bisa menangis dan terus menangis dengan kondisinya seperti ini. “mengapa kau memberikan cobaan kepadaku ya Allah. Mengapa kau memberiku takdir untuk hidup di keluarga yang seperti ini. Kini aku sangat terpukul, karena kedua orang tuaku tidak menyayangiku lagi. Akankah ini azab dari-Mu? Sungguh aku membenci semua kondisiku sekarang ini”. Nadia selalu mengucapkan kata-kata itu disetiap waktu.

Ketika Nadia lulus SMK dan Nadia masuk kuliah. Kedua orang tua Nadia masih saja seperti itu, pulang malam pergi pagi. Sampai-sampai, Nadiapun lupa akan wajah mereka. Mungkin, dulu ketika Nadia masih kecil, Nadia masih bisa menerima kondisi keluarganya. Namun, setelah Nadia semakin besar, serta  Mbok Minah dan Pak Tejo pulang ke kampung, akibat sudah terlalu lelah untuk bekerja, Nadia berubah menjadi pemberontak. Nadia yang dulu berubah menjadi Nadia yang sekarang.
Semenjak Mbok Minah dan Pak Tejo pergi meninggalkan rumah besar itu, Nadia tidak ada yang mengurus. Kedua orang tua nya sangat-sangat sibuk dengan pekerjaannya, sampai-sampai Nadia pulang malam dan keluar masuk tempat malampun kedua orang tuanya tidak mengetahui. “Betapa ceroboh dan lalainya mereka menjadi seorang ayah dan ibu, sampai-sampai kelakuan anaknya saja mereka tidak tahu” ucap salah satu tetangga Nadia.

Setiap malam Nadia selalu di jemput oleh laki-laki dengan mengendarai sebuah mobil berwarna hitam. Lelaki itu adalah Rudi, kekasih Nadia. Rudi selalu menjemput Nadia seusai adzan maghrib di masjid, dan Rudi selalu mengantarkan Nadia pulang kerumah ketika adzan subuh. Hal seperti ini selalu mereka lakukan setiap harinya.

Hari ini hari sabtu, dimana kalender menunjukkan hari ini tanggal merah. Ayah dan ibu Nadia kebetulan tidak bekerja. Niat baik kedua orang tua ini adalah, menghabiskan waktu liburan dirumah bersama anaknya, Nadia. Namun, semua itu sirnah begitu saja, ketika dia mengetahui kalau anak perempuannya belum pulang kerumah.  Ditunggunya dari pagi sampai ketemu malam lagi, namun Nadia belum juga pulang kerumah. Kedua orang tua ini hanya mendapat telepon dari Nadia, bahwa dia sedang menginap dirumah temannya, Silvi namanya. Kedua orang tua ini sudah tidak merasakan kecemasan ketika Nadia sudah memberikan kabar.

Kedua orang tua ini tidak mengetahui, bahwa kabar yang barusan mereka dengar tentang anaknya itu,  hanyalah kabar bohong. Karena sebenarnya anak mereka sedang berada di hotel bersama kekasihnya, yaitu Rudi. Nadia dibawa kehotel karena dia sedang mabuk, dia tidak berani pulang kerumah, karena dirumah ada ayah dan ibunya. Nadia takut dimarahi oleh orang tuanya itu jika tau kalau dia mabuk dan diantar kerumah malam-malam dengan laki-laki.

Hari sudah pagi, Nadia masih tertidur lemas diatas kasur. Dilihatnya Rudi berada di sampingnya. Gadis remaja ini lekas membersihkan badan dan pergi kuliah. Karena sudah banyak sekali dia absen bolos kuliah.

Ketika sampai, Nadia bergegas ke kalas nya. Disana dia sudah ditunggu oleh dosen mata kuliah IPS. Dosen ini sangat terkenal akan galaknya. Ketika sampai dikelas, Nadia di panggil dosen ini untuk pergi keruangannya. Dosen ini kelihatannya sangat marah sekali dengan absen nya Nadia. Karena disetiap mata pelajarannya, Nadia tidak pernah masuk. Selama 1 semester, Nadia hanya masuk 4x dalam mata kuliah IPS. Betapa marahnya dosen ini melihat kelakuan Nadia. Nadia hanya terdiam, dia tidak bisa melawan ataupun mengelak. Mulutnya serasa di beri lem mendadak, karena dia sama sekali tidak bisa menjawab segala pertanyaan dosen itu.

“ hampir lama Nadia berada didalam ruangan dosen itu, sebenarnya apa yang sedang terjadi?” tanya Silvi, salah satu kerabat dekatnya Nadia kepada teman-teman yang lainnya. Namun mereka semua hanya menggeleng-gelengkan kepala saja, karena mereka semua tidak mengetahui kejadian sebenarnya.

Akibat kejadian ini, dosen tadi memanggil kedua orang tua Nadia untuk membicarakan masalah ini. Betapa marahnya ayah Nadia, ketika dosen itu memberi tahu, jika Nadia sering membolos kuliah. Orang tua ini sangat-sangat marah kepada Nadia, sampai-sampai Nadia di pukuli diruangan dosen itu. jerit tangis kesakitan selalu di ucapkan gadis ini disetiap pukulan yang di berikan kepadanya.

“ayah dan ibu selalu bekerja keras untuk kamu, tetapi kamu malah mengecewakan ayah dan ibu” 
Lelaki tua itu mengucapkannya dengan nada keras dan emosi.

aku tidak butuh uang kalian, harta kalian dan semua kemewahan kalian yang kalian berikan kepadaku. Aku hanya membutuhkan kasih sayang dari seorang ayah dan ibu, yang selalu kalian berikan sewaktu aku masih kecil. Dan sekarang, kalian hanya memberikan kesibukan dan dunia yang seperti neraka ini kepadaku”

Nadia menjerit dan menunjuk-nunjuk kedua orangtuanya serta membalas ucapan ayahnya tadi.
Dosen itu merasa kaget dengan apa yang dialami Nadia. Dia tidak menyangka jika Nadia seperti ini. Dosen itu pikir, Nadia sangat bahagia dengan segala kekayaan yang telah diberikan oleh kedua orang tuanya. Namun, pikiran dosen itu salah. Nadia sangat membenci dunianya. Bahkan Nadia juga membenci kedua orangtuanya.

Dengan kesalnya Nadia langsung pergi dari ruangan dosen itu dengan meninggalkan kedua orang tuanya itu. Nadia mengunjungi tempat dimana dia selalu menghabiskan malam bersama Rudi, yaitu disalah satu tempat malam yang berada di dekat kampusnya. Disana Nadia tidak melihat Rudi,  yang dilihat hanyalah teman-teman Rudi yang sedang asyik dengan wanita-wanitanya.

Sambil meminum anggur merah, Nadia menghembuskan asap rokok dari mulut dan hidungnya. Dia menunggu Rudi, kekasihnya. Namun, rasa tidak enak terasa di perutnya. Rasa mual-mualpun muncul. Gadis dengan menggunakan dress ini segera berlari menuju kamar mandi. Dikeluarkan semua rasa mual-mualnya itu di toilet. Namun, gadis ini hanya mengeluarkan sedikit cairan-cairan dari mulutnya.

Nadia pulang kerumah dengan kondisi mabuk sekitar jam 2 malam. Dia pulang sendirian tanpa ada yang mengantarnya. Ketika ibu Nadia membukakan pintu, ternyata ibunya langsung syok melihat kelakuan anaknya selama ini. Ternyata Nadia setiap hari suka keluyuran sampai jam segini.Tanpa sadarnya, Nadia telah mendorong ibunya dan masuk ke kamar.

Keesokan harinya, Nadia merasakan mual-mual lagi. Dia heran, semenjak kejadian pada malam itu, Nadia sama sekali belum datang bulan. Dia takut jika terjadi sesuatu kepadanya. Segera pergi dia ke kamar mandi dengan membawa gelas dan alat pengecek kehamilan. Dan ternyata, Nadia positif hamil.

Jerit tangis gadis usia 19 tahun ini ketika mengetahui bahwa dia hamil. Terdengar dari rumah besar ini tangisannya. Kedua orang tua Nadia berlari ke kamar mandi, ketika mereka mendengar pecahan kaca dan jeritan tangis kesakitan Nadia. Dihampirinya langsung ke kamar mandi, dimana Nadia sedang mengurungkan diri.

Semakin lama, malah semakin terdengar suara jerit kesakitan Nadia, ayah Nadia panik takut anaknya terjadi apa-apa di dalam. Dengan jentel nya, lelaki tua ini mendobrak pintu kamar mandi dengan sekuat tenaga. Ketika pintu sudah terbuka, perempuan dan laki-laki yang sudah mulai tua ini melihat anaknya sedang mencoba bunuh diri. Kedua orangtua ini melihat anaknya menggenggam sebuat alat pengecek kehamilan, ketika dilihat ternyata anaknya ini positif hamil. Betapa hancurnya hati seorang ibu ini, saat melihat anaknya sudah mengandung akibat kenakalan yang sudah diperbuat. Si ibu langsung pingsan melihat semua kondisi ini. Si ayah langsung membawa si ibu pergi ke kamarnya.

Melihat kondisi ayah dan ibunya yang sudah semakin tua itu, Nadia sangat-sangat kecewa. “Apa yang sudah aku lakukan selama ini. Betapa kotor nya aku sekarang ini. Harapanku, harapan kedua orang tuaku dan semua cita-citaku, kini hancur sudah. Semua ini hancur karena diriku. Diriku yang tak pernah bisa menjadi orang baik, diriku yang tak pernah bisa untuk menjadi apa yang orang tuaku inginkan. Andai, aku selalu menaati perintah dan larangannya, pasti aku tidak mungkin seperti ini. Aku benar-benar bodoh sekali, karena aku sudah menjadi seperti ini”.

 Lagi-lagi hanya menangis, menangis, dan menangis yang Nadia lakukan. Banyak sekali penyesalan yang selalu dia lontarkan di depan ayah dan ibunya itu. “namun, nasi sudah menjadi bubur. Dan bubur itu, sudah tidak bisa berubah menjadi nasi lagi. Walaupun bisa, tidak akan sempurna seperti sedia kala”. Ucap ayah satu anak ini dengan nada emosi.

Nadia berusaha mencari-cari Rudi, namun dia tidak pernah menemukan Rudi. Kini usia kehamilannya sudah menginjak 4 bulan. Kini perutnya pun sudah mulai membesar. Betapa malunya keluarga ini menanggung semua beban penderitaan, ejekan dan hina’an semua orang akibat ulah anaknya.

Ketika kandungan Nadia berusia 7 bulan, Nadia bertemu dengan Rudi. Dilihatnya lelaki yang sudah menghabiskan dia dimalam itu, sedang bersama perempuan lain. Ditamparnya pipi kiri laki-laki itu dengan tangan kanan Nadia. Namun, lelaki itu malah menganggap Nadia orang gila. “bagus, bagus sekali kamu sekarang Rud. Dulu, kamu bersamaku. Sekarang bersama perempuan ini” sambil mendorong badan perempuan cantik yang sedang bersama Rudi.

Rudi malah mendorong Nadia, dan dia pun terjatuh di badan jalan. Ketika dia jatuh, dari arah selatan terdapat mobil dengan laju cepat dan menabraknya begitu saja. Dengan badan yang berlumur darah, wanita malang ini dibawa kerumah sakit oleh warga sekitar.

Sesampainya dirumah sakit, nyawa anak yang dikandungnya sudah tidak terselamatkan. Kedua orangtua Nadia bersama mbok Minah dan pak Tejo segera mendatangi Nadia dirumah sakit. Wanita malang ini sempat tersadarkan diri, ketika kedua orangtuanya dan kedua orang yang selalu mengurusnya diwaktu kecil itu hadir disamping dia.

“ibu, ayah.. maafin Nadia. Nadia benar-benar telah membuat dosa yang sangat besar kepada ibu dan ayah. Maafin Nadia juga tidak bisa menjadi anak kebanggaan ibu dan ayah, maafin Nadia sudah jadi anak durhaka dan beban dikeluarga ini. Sekali lagi Nadia meminta maaf kepada ayah dan ibu. yang Nadia butuhkan sekarang, adalah ridho dan keikhlasan ayah dan ibu, agar Nadia bisa hidup tenang di alam sana” 
Sambil terbata-bata wanita ini meminta maaf kepada orangtuanya.

“mbok, pak.. tolong jagain ibu dan ayah ya. Jangan sampai ibu dan ayah sakit karena kelelahan kebekerja. Selalu rawat ibu dan ayah sebagaimana kalian dulu merawat saya. Sekali lagi, tolong jagain ayah dan ibu, agar aku bisa tenang di alam sana”

Setelah mengucapkan pesan ini, Nadia merasa kesakitan. Dia sakit, karena malaikat ingin mencabut nyawanya. Kedua orangtua Nadia membisikkan kalimat syahadat ke bagian kuping anaknya itu. perlahan-lahan Nadia mengikutinya. Berkali-kali Nadia mengucapkan syahadat dan menyebut-nyebut nama Allah dari mulutnya itu dengan terbata-bata. Pas yang ke 10x, Nadia menghembuskan napas terakhirnya dirumah sakit itu. semua orang menangis akibat kepergian Nadia.

Seusai pemakaman Nadia, mbok Minah menemukan selembar kertas dengan tulisan yang tergeletak di atas meja kamarnya Nadia.

“ayah, ibu, mbok minah, pak tejo.. jaga diri kalian baik-baik ya. Sebelum Nadia pergi mencari Rudi, Nadia menuliskan surat ini untuk kalian semua. Maafkan Nadia sudah merusak semua harapan kalian termasuk ayah dan ibu.  Nadia bangga sama kalian berdua, kalian sudah menjadi seorang ayah dan ibu yang baik untuk Nadia. Nadia sadar, selama ini kalian berdua sangat menyayangi Nadia dengan cara, mencari uang untuk membiayai semua kehidupan Nadia.
Untuk mbok minah dan pak tejo, Nadia mengucapkan banyak-banyak terimakasih, karena kalian berdua sudah bersusah payah mengurus Nadia dan mangapdi pada keluarga ini. Walaupun gajih kalian berdua tidak seberapa dibandingakan pengorbanan kalian untuk keluarga ini.
 Sekali lagi Nadia ucapkan terimakasih untuk semua orang yang Nadia sayang dan sayang sama Nadia. Jaga diri kalian baik-baik ya, takutnya Nadia pergi mencari Rudi bukan untuk sementara waktu, Tetapi selamanya,
Selamat tinggal, Nadia selalu sayang sama kalian semua“

Isi dari surat itu adalah kata-kata maaf Nadia untuk Ayah, Ibu, mbok Minah dan pak Tejo. Mereka tidak menyangka jika Nadia meninggalkan mereka terlebih dahulu.
Nadia memang meninggal di usia muda, yaitu 20 tahun.  Dia meninggal akibat ditabrak oleh mobil yang melaju kencang.

Semenjak kepergian Nadia, kedua orangtua Nadia , mbok Minah dan pak Tejo tinggal di panti jompo dekat rumah Nadia. Melihat kondisinya yang semakin tua dan keterbatasan kemampuannya, ketua Rt setempat memberikan pelayanan kepada mereka di panti jompo dengan gratis. Mereka lewatkan usia tua nya dengan bahagia. Untuk masalah Nadia, mereka semua mengambil hikmah dari semua cobaan yang Allah berikan kepada mereka. Mereka merasakan hangatnya masa tua di panti jompo walaupun tidak diurus oleh anak nya. Melainkan orang lain yang belum pernah mereka kenal.

#sekian dulu yaa cerita dari saya
selamat siang ^_^

Sabtu, 27 Desember 2014

MOVE ON

Hari ini adalah hari petamaku tanpa ada dirimu dan bayang-bayangmu. Aku senang, aku bahagia telah melepas semua bebanku di kertas ini. Setiap aku bertemu kamu, aku sudah mulai berani menatap mata itu. Dulu aku memang takut, aku takut karena aku mempunyai perasaan kekamu. Namun, sekarang aku sudah berani, iya aku berani. Karena aku sudah menghapus rasa itu semua dari diriku ini.

Mungkin kamu bingung jika melihatku sekarang. Dulu aku suka membuang muka, jika aku bertemu denganmu. Namu sekarang, aku malah tersenyum dan menyapamu dihadapan teman-temanmu, termasuk didepan kedua orang tuamu.

Kamu tidak perlu bingung ataupun curiga dengan semua perubahanku. Aku berubah seperti ini, bukan karena aku sudah mendapatkan penggantimu. Namun aku termotivasi akan kata-kata dan nasehatmu sewaktu kita masih bersama. Kamu memang benar, kamu memang hebat, karena bisa merubahku menjadi jiwa yang kuat, sabar, rela berkorban, ikhlas dan yang pasti pantang menyerah untuk mendapatkan sesuatu, termasuk segala cita-cita dan impianku yang akan kuraih mulai dari sekarang. Aku berharap bukan hanya hari pertamaku yang bisa berhasil, tetapi aku ingin disetiap hari-hariku ada keberhasilan ini.

Kamu tidak perlu bertanya dengan teman-temanku, bagaimana cara aku bisa melupakanmu. Karena itu adalah hal yang paling mudah untuk kujawab. Aku bisa melupakanmu dengan cara:
1. Selalu menganggap kamu tidak ada di sisiku.
2. Menjauhkan hp dari diriku (untuk sementara waktu).
3. Dihari-hariku tidak pernah ada kamu
4. Selalu menulis karya yang berbau kamu dan perasaanku, agar sema beban pikiranku bisa tertuang di dalam cerita itu dan pergi jauh dari pikiranku.
5. Selalu membuang jauh-jauh virus kamu di pikiranku

Itu adalah 5 cara yang selalu kulakukan disetiap waktu, agar aku bisa seperti ini. Dari sekian cara yang aku lakukan, aku juga selalu berdoa dan memohon kepada Allah SWT, agar semua yang aku lakukan bisa berhasil.

Sekarang kamu tidak usah cangkung lagi denganku, karena kita sudah tidak ada apa-apa lagi. Aku ya aku, kamu ya kamu. Dunia kita sekarang sudahlah beda. Aku harap kamu bisa menggapai semua impianmu, dan aku bisa menggapai segala impianku. Cukup sampai disini cerita kita, aku akan mencoba menulis cerita-ceritaku dimasa yang akan datang, dimana tidak ada kamu, melainkan segala kesuksesanku dan kebahagiaanku. Dan kamu? Kamu hidup bebas sesuka hatimu
Selamat tinggal... :)
#‎itu‬ ceritaku Dihari ini, mana ceritamu? :)

Senin, 22 Desember 2014

Cinta Tak Terbalas

Sudah cukup lama aku memendam rasa ini, namun dia tidak pernah mengetahui akan perasaan ini. Entah dia sengaja, atau memang dia tidak tau. Yang jelas, batinku tersiksa akan perasaan ini.

Waktu itu, aku sempat dekat dengannya. Aku dan dia sangatlah dekat, sampai-sampai banyak orang menyangka kami pacaran. Tetapi kenyataanya, kami hanyalah berteman. Ketika orang berpikiran seperti itu, aku hanya meng’amini ucapan mereka didalam hati. Agar ucapan mereka semua terkabulkan (harapanku).

Malam ini, hpku rusak dan kubawa ke konter untuk diservice. Hampir 1 minggu aku dan dia tidak saling memberi kabar. Aku takut dia berpikiran negative tentangku. Maka, aku bermaksud memberitahunya, bahwa aku sudah 1 minggu tidak memegang hp. dia merasa senang melihatku menghampirinya dan memberikan penjelasan ini. Aku juga sangat senang melihat wajahnya yang menggambarkan bahwa dia senang sekali.

Setelah itu, aku pulang kerumah. Malam ini aku tidak bisa tidur karena memikirkan dia. Hanya dia yang ada dipikiranku. “Duhhh nampaknya cinta ini semakin besar tumbuh dihati, apakah dia merasakan hal yang sama denganku?” hati ini selalu bertanya-tanya akan balasan cinta ini.

Awalnya aku sangat yakin dia akan membalas cintaku. Namun, seiring waktu berjalan, dia lebih suka membuat status di salah satu sosmed dengan membawa-bawa nama perempuan. Timbul banyak pertanyaan di hati ini, “siapakah dia?”.

Segala cara telah aku lakukan, salah satunya adalah menanyakan “siapa perempuan itu” kesalah satu teman sekolahnya. Tetapi, jawaban yang tak kusangka malah terlontarkan dari mulut temannya itu. Temannya memberitahuku, bahwa perempuan itu adalah “mantan kekasihnya”, mereka satu sekolah, satu jurusan dan satu kelas. Mendengar penjelasan itu, tubuhku berubah menjadi dingin dan gemetaran. Sungguh, betapa kecewanya hati ini, mendengar ucapan itu. Walaupun seperti itu, aku tetap baik hati kepadanya.

Setelah kejadian itu, aku berusaha tegar, bersabar, ikhlas dan selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT. Aku sadar, mungkin aku dan dia memang tidak jodoh. Aku bahagia melihat dia bahagia dengan mantan kekasihnya. Mungkin, sebentar lagi mereka akan bersatu lagi. Dan aku harus pergi serta meninggalkan perasaan dan mimpi kecilku ini, agar mereka bahagia. Aku yakin, cinta yang tak terbalas ini, suatu saat nanti pasti akan menemukan sosok seseorang yang memang pantas dan layak untuk kucintai dan mencintaiku. Semua ini akan selalu terkenang di hati.

SELAMAT TINGGAL untuk perasaan ini, kamu dan semua kenangan itu. Aku bahagia akan semua ini^_^


Nama: ESI ISTIQOMAH
umur: 16th
Kelas: X-AK2 di SMKN 11 JAKARTA
tempat tinggal: Jl. Teluk Gong Gang Masda 2 Rt 07 Rw 009 Kel. Pejagalan, Kec. Penjaringan Jakarta Utara

Minggu, 07 Desember 2014

ARTI SEBUAH KEBAHAGIAAN

Gak tau kenapa hampir setiap hari aku memimpikan sosok seorang lelaki memakai baju biru. Aku tidak tahu dia itu siapa. Yang kutahu dia adalah seorang lelaki tampan yang selalu mengenakan baju berwarna biru muda. Aku merasakan keanehan ini setelah tragedi kecelakaan waktu itu. Yang sudah menelan semua anggota keluargaku. Kini hanya tinggal aku sendiri. Iya hanya aku seoranglah yang masih sempat terselamatkan dari tragedi kecelakaan itu. Adik dan orang tuaku, mereka sudah tenang disurga sana.

Malam ini bukan malam pertama atau kedua kalinya aku memimpikan seorang laki-laki itu, tetapi ini adalah malam ke 100 kalinya aku bermimpi seperti itu. sosok laki-laki itu selalu memecahkan konsentrasiku dalam mengerjakan pelajaran mata kuliahku. Gara-gara hal ini aku jadi seperti orang gila yang selalu dihantui sosok lelaki baju biru.

Pagi itu aku pergi kekampus bersama Adi. Adi adalah salah satu sahabat aku yang paling setia menemaniku. Keluarga Adi juga sudah menganggapku seperti anak mereka. Begitu juga denganku, yang sudah menganggap kedua orang tua Adi adalah orang tuaku.

Tepat waktu istirahat, Aku dan Adi pergi ke kantin kampus. Disana aku seperti melihat sosok seseorang yang selalu hadir didalam mimpiku dan selalu menghantuiku. Tetapi kali ini dia mengenakan baju berwarna putih. Akupun sempat merasakan keanehan dengan orang itu dan tentang mimpiku selama ini.

Setelah itu aku langsung pulang. Seperti biasa aku selalu diantar-jemput oleh Adi. Tetapi kali ini aku pulang sendirian, karena Adi harus ke toko buku dulu, untuk membeli buku adiknya.
Kesialanpun berpihak denganku. Bukan hanya hujan besar, tetapi angkotpun dari tadi tidak ada yang lewat didepanku. Padahal aku sudah hampir  2 jam menunggu angkot untuk pulang, tetapi setiap angkot yang lewat kursinya sudah tidak muat lagi.  Tiba-tiba dari arah selatan datanglah mobil berwarna hitam menghampiriku dan mobil itu berhenti tepat di depanku. Aku penasaran, siapa yang ada didalam mobil itu. Tidak mungkin Adi, karena mobil Adi berwarna putih bukan hitam.

Ketika aku melamun, tiba-tiba ada sosok lelaki yang turun dari mobil itu dengan membawa sebuah payung lalu dia menghampiriku. Saat kulihat wajahnya, ternyata dia itu adalah orang yang selalu menghantuiku didalam mimpi. aku sangat-sangat terkejut melihatnya. Ketika aku melamun dia menyodorkan tangannya ke tanganku dengan menawarkan tumpangan kepadaku. Namun aku segera menolaknya. Tetapi laki-laki itu malah menasehatiku, agar aku ikut saja dengannya. Karena disini sudah tidak ada angkot lagi yang akan lewat. Karena ini sudah pukul 4 sore.

Aku sempat berfikir bahwa yang dibicarakan lelaki itu sebenarnya adalah benar, namun aku takut dengannya. Tetapi lelaki itu telah berjanji kepadaku bahwa dia hanyalah bermaksud baik untuk menolongku, bukan untuk hal yang negatif.  Lalu akupun ikut bersamanya.

Sesampainya dirumah aku mengucapkan terimakasih kepadanya, namun dia hanya tersenyum manis membalas ucapanku.  Dan dia bertanya siapa namaku, dan aku jawab namaku adalah Putri. Setelah itu diapun memberitahu namanya adalah Rio. Ohh.. ternyata dia adalah Rio, orang yang selama ini menghantuiku didalam mimpi (ucapku didalam hati). Setelah itu aku langsung masuk kerumah dan membersihkan bajuku yang basah.

Malam ini adalah malam minggu. Biasanya Adi mengajakku untuk main keluar rumah, namun kali ini Adi tidak mengajakku, mungkin dia lagi sibuk dengan mata kuliahnya. Tiba-tiba dipikiranku melintas sosok Rio, aku melamun dengan sikap Rio tadi. Rio memang baik, tetapi kenapa aku takut dengannya? Akupun bingung sekali dengan perasaan takutku itu.
Pagi ini hari minggu, seperti biasa aku joging di taman. lagi-lagi aku bertemu Rio. Tetapi anehnya semalam aku tidak memimpikan sosok baju biru lagi. Tetapi..... yasudahlah aku tidak mengerti sama semua ini.

Saat aku sedang duduk ditaman, Rio lewat didepan ku. Kuakui bahwa Rio sangatlah tampan dan gagah.  Tetapi.. huh sudahlah aku bicara seperti apa ini. Tidak jelas menurutku.
Senin pagi aku pergi kekampus, tepat di tangga aku bertemu Rio. Dia menyapaku, aku hanya tersenyum kepadanya. Ketika pulang kuliah, Rio menungguku di depan pintu gerbang. Ketika itu aku dan Adi sedang tertawa-tawa menceritakan adiknya Adi. Namun aku terkejut waktu Rio mengajakku pulang bareng bersamanya. Ternyata Adi tidak suka melihat Rio seperti itu, karena Adi cemburu dengan Rio.

Setelah itu Adi menyuruhku untuk pulang bersama Rio, karena Adi harus pergi menjemput ibunya dahulu. Adi takut telat jika harus mengantar aku dulu. Mendengar Adi bicara seperti itu, aku pun menerima tawaran Rio.

Disepanjang jalan Rio menanyakan asal-usul aku dan keluargaku. Aku hanya menjawab “aku disini sudah tidak mempunyai siapa-siapa. Aku disini hanya dirawat oleh Adi dan keluarganya, namun kami tetap berbeda rumah, karena aku tidak mau meninggalkan rumah orang tuaku”.
Rio tersenyum mendengar ceritaku dan dia berkata “tenang Put, aku akan selalu ada dan menjagamu sekuat dan semampuku”, sambil memegang keningku. Aku hanya tersenyum melihat respound Rio seperti itu kepadaku.

Semenjak kejadian itu, Rio malah sering menjemput dan mengantarku kekampus. Tetapi aku malah merasa Adi pergi menjauh dariku. Ketika sampai dikampus, kulihat Adi sedang duduk sendiri di taman. kuhampiri dia, dan kutanya “apa yang sedang kau pikirkan Adi?” Adi hanya menjawab “aku sedang memikirkan seorang wanita yang aku sayangi dan aku cintai, namun dia sedang dekat dengan orang yang tak kukenal” aku tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban Adi seperti itu,  Namun Adi malah marah kepadaku dan meninggalkanku.

Aku segera mengejarnya dan aku meminta maaf kepadanya. aku tidak bermaksud untuk menertawakannya. Aku hanya kaget dan lucu mendengarnya berbicara seperti itu. Lalu Adi hanya bilang “iya aku tahu maksudmu, dan akupun tidak pernah tersinggung dengan ucapanmu tadi”. Saat berbicara seperti itu tiba-tiba Rio datang mengajakku pergi kerumahnya untuk menemui Ibunya. Lalu Adipun langsung meninggalkanku dengan cepat.

Ketika didalam mobil tiba-tiba Rio menyatakan cintanya kepadaku. Namun aku tidak bisa menjawabnya sekarang, aku masih bingung. Sesampainya di rumah Rio, kedua orang tua Rio sangatlah baik kepadaku, mereka memperlakukanku seperti anaknya. Mungkin karena mereka tidak mempunyai anak perempuan (pikirku).

Sesampainya dirumah, ternyata Adi sudah menungguku sangat lama. Waktu kudatang, Adi hanya menyindirku dengan nada ngeledek. Aku hanya menjawab “aku hanya diajak untuk bertemu dengan kedua orang tuanya Rio saja”, lalu Adi menyahuti ucapanku dengan ketawa riang “sebentar lagi juga mereka datang kerumahmu untuk melamarmu put” aku segera masuk meninggalkan Adi. Adi segera pulang kerumahnya.

Keesokan harinya Rio menagih jawabanku, aku bingung. Padahal aku semalaman tidak tidur untuk memikirkan hal itu, namun jawabanku masih meragukan. Namun Rio sangatlah mengerti dengan keadaanku, jadi Rio masih memberikanku kesempatan untuk berfiki hingga besok hari.
Keesokannya dengan raut wajahnya yang senang, Rio menghampiriku dengan membawa seribu penantian jawaban dariku. Ketika aku menjawab kalau aku mau menjadi pacarnya, disamping aku ada Adi. Adi hanya tersenyum melihatku seperti itu. Karena Adi ingin yang terbaik untukku dan Adi ingin aku bahagia bersama orang yang aku sayangi. Adi lalu pergi meninggalkan aku berdua bersama Rio.

Sudah 1 tahun aku menjalani hubungan bersama Rio, namun aku lihat Adi malah menjauhiku begitu saja. Aku tidak tahu akan maksudnya, tetapi aku yakin bahwa ada sesuatu hal yang Adi sembunyikan dariku.

Ketika aku menghampiri Adi di taman, Adi sama sekali tidak mau menatap kedua mataku. Ketika kulontarkan banyak pertanyaan kepadanya, Adi hanya menjawabnya dengan singkat. Ketika ku pegang tangannya dan kutatap matanya, Adi menangis. Iya dia menangis, dia tidak bisa membohongi perasaannya kepadaku. Dia menyesal, karena dari dulu tidak berani mengungkapkannya kepadaku. Dia juga tidak bisa lari dari semua kenyataan ini. Adi hanya ingin aku bahagia bersama orang yang aku cintai.

Mendengar itu, hatiku bergetar. Aku bodoh, aku tidak pernah sadar akan perhatian Adi selama ini. Sekarang apa yang harus aku lakukan? Karena aku sudah bersama Rio. Akupun sudah sangat menyayangi Rio. Namun Adi hanya berkata “sudah, kau tidak usah memikirkanku. Aku bahagia melihat kau bahagia. Kalau kamu tidak bersama Rio juga kita tidak akan pernah bisa bersatu, karena sebenarnya aku sudah dijodohkan dengan anak temannya mama, dia namanya Anggi. Wanita cantik yang baik hati” jawaban Adi sedikit menghiburku. Namun aku masih belum bahagia, kalau Adi masih terluka olehku.

4 bulan telah berlalu. Aku sekarang sudah bahagia bersama Rio dan Adipun sudah bahagia bersama Anggi. Kejadian itu adalah sebuah pelajaran bagi aku, Adi dan kita semua. Karena kebahagiaan adalah sesuatu hal yang sulit didapatkan. Dan kebahagiaan bisa saja berupa cinta, kasih sayang ataupun kebersamaan. Kebahagiaan juga bisa terjadi bila kita saling ikhlas untuk menjalani hidup dan selalu ikhlas memberikan kasih sayang kepada orang lain dalam bentuk apapun. Walau sekalipun harus kita yang berkorban atau yang tersakiti. SUNGGUH..... orang yang selalu berkorban demi kebahagiaan orang lain adalah orang yang tahu arti sebuah kebahagiaan.

                                                             _HAPPY ENDING_

Jumat, 05 Desember 2014

SEORANG SAHABAT

Pagi itu waktu aku ingin pergi ke sekolah, aku melihat seorang wanita cantik sedang duduk di taman. kuhampiri dia, takku sangka dia adalah deby. Deby adalah salah satu sahabatku dari semasa aku kecil. Cuma dia yang benar-benar tulus berteman denganku. Sewaktu aku susah dia selalu ada untukku dan sewaktu aku sedih dia selalu ada untuk menghiburku dengan mimik mukanya yang lucu itu. Deby memang berasal dari keluarga yang ekonominya cukup diatas rata-rata. Tetapi dia tidak sombong,  dan dia selalu memberi kepada orang yang benar-benar pantas untuk diberi. Aku bangga, benar-benar bangga dengannya.

Tepat waktu liburan sekolah, aku beserta segenap keluarga deby pergi untuk berlibur ke rumah neneknya deby. Sewaktu aku dan deby tidur, tak kusangka kedua orang tua deby sedang membicarakan tentang penyakit yang sudah lama diderita oleh deby. Aku benar-benar terkejut mendengarnya, mendengar bahwa deby menderita penyakit kanker. Aku sempat tak percaya, karena deby selalu tampak sehat dan lebih ceria dibandingkan denganku. Aku harus menyelidiki tentang semua ini.

Setelah seminggu aku menginap dirumah neneknya deby, aku dan deby pergi ke sawah.  Disana banyak sekali burung-burung berterbangan. Aku dan deby berusaha mengejar dan menangkapnya, namun tiba-tiba deby merasakan pusing dan sakit dibagian pernafasannya. Aku dan deby segera pulang ke rumah neneknya.

Sesampainya di rumah, deby segera dibawa ke dokter dengan menggunakan kendaraan pribadi keluarganya. Aku selalu ikut untuk menemani deby. Setelah sampai di rumah sakit, ternyata dokter bilang kalau deby terlalu lelah yang mengakibatkan dirinya begitu drop. Deby harus banyak-banyak istirahat. Liburan ini benar-benar tidak mengasyikkan. Liburan ini hanya membuat deby drop.
Setelah 2 minggu menginap di rumah nenek, aku beserta deby dan kedua orang tuanya segera kembali lagi ke Jakarta, karena senin besok sudah mulai masuk sekolah. Kondisi deby belum stabil, malah kulihat deby semakin parah. Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan.

Keesokan harinya, waktu aku sekolah, aku sama sekali tidak melihat deby. Kutanyakan keberadaan deby kepada teman sekelasnya, tetapi mereka semua bilang tidak tahu. Aku cemas dan khawatir dengan deby. Aku takut deby benar-benar belum sembuh akibat liburan kemarin.
Setelah pulang sekolah aku mampir ke rumah deby. Tetapi dirumahnya kelihatan kosong tak berpenghuni. Aku bertanya kepada salah satu tetangganya, mereka hanya bilang deby dan keluarganya sudah lama tak kelihatan dirumah. Di rumahnya hanya ada pembantu dan tukang kebunnya saja. Aku penasaran akan keberadaan deby. Kucoba tanyakan semua ini kepada pembantunya deby. Dan pembantunya bilang kalau deby dirawat di rumah sakit dari semenjak usai liburan kemarin. Sungguh aku benar-benar khawatir akan kondisi deby.

Hari ini adalah hari minggu, aku berniat untuk menjenguk deby di rumah sakit. Sesampainya disana, aku melihat kedua orang tua deby sedang duduk melamun di depan ruangan dimana deby dirawat. Kuhampiri mereka dengan rasa gelisah. Ketika kutanyakan akan kondisi deby, kedua orang tua deby hanya bilang kalau deby tidak apa-apa. Deby hanya kelelahan saja, kemungkinan besok sudah bisa sekolah lagi seperi biasanya.

Setelah itu aku pulang ke rumah. Kuceritakan kondisi deby kepada ibuku. Ibuku hanya menjawab dan memberiku nasehat agar aku tidak perlu berfikiran negatif akan kondisi deby. Aku hanya menganggukkan kepala ketika ibu menasehatiku. Nasehat ibu memang benar. Aku tidak boleh beranggapan negatif akan kondisi deby, namun aku juga tidak bisa berdiam diri melihat deby seperti itu.

Keesokan harinya deby sudah bisa sekolah lagi seperti biasa, namun kondisinya memang belum pulih. Aku senang bisa bertemu dengannya. Sudah lama aku tidak pernah melihat deby. Bisa dibilang aku merindukan deby. Iya aku sungguh merindukannya.
Seiring jalannya waktu, tiba-tiba deby hilang tanpa kabar. Kuberusaha mencari-carinya, namun aku tidak menemukannya. Tepat tanggal 27 Oktober 2014 aku menghampiri rumah deby. Di pagar rumah deby tertancapkan bendera kuning dan di teras rumah deby terdapat tenda. Aku bingung, apa yang sedang terjadi dirumah deby ? dan siapa yang meninggal ?.

Dari pada aku penasaran lebih baik aku masuk kedalam rumah deby. Sungguh tak kusangka kedua orang tua deby sedang menangisi sosok seseorang yang sedang terbaring tak bernafas. penasaranku samakin memuncak ketika melihat sosok seseorang yang sedang terbaring lemah tak bernafas dan tertutupi kain panjang. Ketika kuhampiri ternyata itu adalah deby. Iya deby, sahabatku dari kecil. Sosok deby tiba-tiba hilang bagaikan dimakan bumi. Dan kini tiba-tiba aku sudah melihat deby tak bernyawa lagi. Sungguh aku seperti berada didalam dunia mimpi. Aku berharap ada sesorang yang membangunkanku dari dunia mimpi ini. Namu disisi lain aku sadar bahwa semua ini bukanlah mimpi. aku tak kuasa melihat hal ini semua. Kini hanya tinggal kenangan saja. Cita-citaku bersama deby untuk menjadi seorang pengusaha tiba-tiba hancur sudah. Tetapi aku tidak boleh lemah hanya karena hal ini saja, aku harus bisa berjuang sendirian untuk membangun usaha itu. Aku tidak mau melihat deby di surga sana sedih akibat mlihatku sedih dan rencana itu gagal semua. Aku harus bisa membuat deby di surga sana senang. Ya.. aku harus BISA BISA BISA dan BISA. Itu adalah keyakinan didalam diri dan hatiku untuk menempuh kesuksesan dimasa yang akan datang. Semoga deby tenang dialam sana dan deby bahagia dialam sana. Doa itu selalu kupanjatkan untuk deby.

SELESAI........ !